Apa Itu Makanan Fungsional: Pengertian, Jenis, dan Contohnya

apa itu makanan fungsional

TL;DR

Makanan fungsional adalah makanan atau minuman yang memberikan manfaat kesehatan di luar fungsi gizi dasarnya, berkat kandungan senyawa bioaktif tertentu. Konsep ini pertama kali dikembangkan di Jepang tahun 1984 dengan istilah FOSHU. Di Indonesia, BPOM mendefinisikannya sebagai pangan olahan yang mengandung komponen fungsional dengan fungsi fisiologis tertentu yang terbukti bermanfaat bagi kesehatan. Makanan fungsional bukan obat dan bukan suplemen, wujudnya tetap makanan biasa yang dimakan sebagai bagian dari diet sehari-hari. Contoh yang sudah ada di meja makan orang Indonesia: tempe, jamu beras kencur, teh hijau, dan yoghurt.

Tempe goreng di sarapan pagi, segelas teh hijau di sore hari, atau semangkuk yoghurt sebelum tidur. Tanpa disadari, banyak orang Indonesia sudah rutin mengonsumsi makanan fungsional. Hanya saja, istilahnya mungkin terdengar asing karena konsep ini lebih sering muncul di literatur gizi daripada di pembicaraan sehari-hari.

Makanan fungsional adalah makanan atau minuman yang memberikan manfaat bagi kesehatan di luar fungsi gizi dasarnya. Artinya, selain mengandung karbohidrat, protein, atau lemak yang memberi energi, ada komponen bioaktif tambahan di dalamnya yang bekerja secara fisiologis, entah itu memperkuat sistem imun, menjaga kesehatan pencernaan, atau menurunkan risiko penyakit tertentu.

Istilah ini pertama kali digunakan oleh peneliti di Jepang sekitar tahun 1984, ketika pemerintah Jepang mulai memikirkan cara menekan beban biaya kesehatan akibat meningkatnya populasi lansia. Dari situ lahir konsep FOSHU (Food for Specified Health Uses), yaitu pangan yang secara ilmiah terbukti mengandung komponen dengan efek menguntungkan bagi kesehatan. Di Indonesia, Peraturan Kepala BPOM HK.00.05.52.0685 tahun 2005 mendefinisikan pangan fungsional sebagai pangan olahan yang mengandung satu atau lebih komponen fungsional, memiliki fungsi fisiologis tertentu berdasarkan kajian ilmiah, tidak berbahaya, dan bermanfaat bagi kesehatan.

Syarat Suatu Makanan Disebut Fungsional

Tidak semua makanan bergizi otomatis masuk kategori fungsional. Ada tiga syarat yang harus dipenuhi sekaligus:

  • Berbentuk makanan atau minuman yang bisa dikonsumsi secara normal, bukan kapsul, tablet, atau serbuk suplemen.
  • Dikonsumsi sebagai bagian dari diet sehari-hari, bukan sebagai dosis terapi seperti obat.
  • Memiliki fungsi fisiologis yang terbukti secara ilmiah, misalnya meningkatkan imunitas, memperlambat penuaan, atau mencegah penyakit tertentu.

Poin pertama sering menjadi sumber kebingungan. Banyak produk yang diklaim “fungsional” padahal wujudnya kapsul atau pil, sehingga sebenarnya masuk kategori suplemen, bukan makanan fungsional. Seperti yang ditegaskan Profesor Loh Su Peng dari Universiti Putra Malaysia dalam kegiatan Summer School Universitas Airlangga 2021, yang tergolong makanan fungsional adalah yang benar-benar berwujud makanan atau minuman, bukan kapsul, suplemen, atau pil.

Makanan Fungsional vs Suplemen vs Obat

Perbedaan ketiganya perlu dipahami agar tidak salah kaprah dalam memilih. Makanan fungsional dikonsumsi dalam bentuk makanan biasa, tidak memerlukan dosis tertentu, dan tidak dirancang untuk mengobati penyakit, hanya mendukung fungsi tubuh agar tetap optimal. Suplemen berisi nutrisi dalam bentuk terkonsentrasi (pil, kapsul, serbuk) dan dimaksudkan untuk melengkapi kebutuhan zat gizi yang mungkin tidak tercukupi dari makanan. Obat, di sisi lain, dirancang khusus untuk mengobati kondisi medis, harus melalui uji klinis ketat, dan penggunaannya perlu pengawasan tenaga kesehatan.

Makanan fungsional juga bukan pengganti gaya hidup sehat. Mengonsumsinya tidak akan membatalkan dampak kurang tidur, jarang bergerak, atau terlalu banyak makan makanan olahan tinggi gula dan lemak. Manfaatnya bekerja dalam konteks pola makan dan gaya hidup yang memang sudah sehat secara keseluruhan.

Jenis Makanan Fungsional

Makanan fungsional bisa diklasifikasikan dari dua sudut: sumbernya dan cara pengolahannya.

Berdasarkan Sumber

Makanan fungsional nabati berasal dari tumbuhan, misalnya kedelai, beras merah, tomat, bawang putih, teh, dan berbagai jenis buah beri. Makanan fungsional hewani berasal dari hewan, contohnya ikan berlemak tinggi omega-3, susu, dan produk olahannya seperti yoghurt.

Berdasarkan Cara Pengolahan

Alami: makanan segar yang tidak mengalami pengolahan apa pun, seperti buah-buahan dan sayuran yang langsung dimakan. Senyawa bioaktifnya sudah ada secara alami.

Tradisional: diolah dengan cara turun-temurun. Tempe adalah contoh paling mudah: fermentasi kedelai oleh jamur Rhizopus oligosporus justru meningkatkan nilai gizinya dibanding kedelai mentah, sekaligus menghasilkan probiotik dan meningkatkan ketersediaan isoflavon yang bermanfaat bagi kesehatan jantung dan tulang.

Modern: diolah dengan teknologi pangan untuk menambah atau memperkuat komponen fungsional tertentu. Misalnya susu yang diperkaya vitamin D, jus buah dengan kalsium tambahan, atau sereal yang difortifikasi zat besi dan vitamin B12.

Contoh Makanan Fungsional dari Dapur Indonesia

Indonesia punya kekayaan pangan fungsional yang luar biasa, sebagian besar sudah ada dalam keseharian tanpa label “fungsional” sama sekali.

Makanan/MinumanKomponen Fungsional UtamaManfaat yang Diteliti
TempeIsoflavon, probiotik, protein nabatiKesehatan jantung, tulang, pencernaan
Jahe / wedang jaheGingerol, shogaolAnti-inflamasi, meredakan mual
Kunyit asamKurkuminAntioksidan, anti-inflamasi
Teh hijauPolifenol, katekinAntioksidan, potensi perlindungan jantung
Yoghurt probiotikBakteri asam laktat hidupKeseimbangan mikrobiota usus
Ikan berlemak (salmon, tongkol)Asam lemak omega-3Kesehatan jantung, fungsi otak
Bekatul (dedak halus)Serat pangan, senyawa fenolikAntioksidan, pencernaan

Tempe layak dapat perhatian khusus. Selama proses fermentasi, jamur Rhizopus oligosporus menghasilkan enzim fitase yang memecah asam fitat (senyawa dalam kedelai yang justru menghambat penyerapan mineral seperti zat besi dan seng). Hasilnya, mineral dalam tempe jauh lebih mudah diserap tubuh dibanding kedelai biasa. Kandungan isoflavonnya pun meningkat dan menjadi lebih bioavailable, artinya tubuh bisa memanfaatkannya lebih efisien.

Manfaat Makanan Fungsional bagi Kesehatan

Riset selama beberapa dekade menunjukkan sejumlah manfaat yang cukup konsisten dari konsumsi makanan fungsional secara teratur:

  • Menurunkan risiko penyakit degeneratif seperti penyakit jantung, diabetes tipe 2, dan beberapa jenis kanker. Antioksidan dalam makanan fungsional membantu menetralkan radikal bebas yang merusak sel.
  • Mendukung kesehatan pencernaan. Makanan kaya serat dan probiotik menjaga keseimbangan bakteri baik di usus, yang berpengaruh ke sistem imun secara keseluruhan.
  • Mencegah defisiensi gizi. Ini terutama penting untuk kelompok dengan kebutuhan khusus, seperti ibu hamil yang butuh asam folat lebih banyak, atau vegan yang perlu sumber vitamin B12 dari makanan yang diperkaya.
  • Mendukung tumbuh kembang anak. Omega-3 mendukung perkembangan otak, kalsium dan vitamin D penting untuk tulang dan gigi.

Perlu dicatat: klaim manfaat pada produk pangan fungsional di Indonesia diatur ketat. Berdasarkan regulasi BPOM, produsen tidak boleh mencantumkan klaim bahwa produknya bisa mengobati atau menyembuhkan penyakit, hanya klaim yang mendukung fungsi normal tubuh seperti “membantu mempertahankan kesehatan kardiovaskuler” atau “mendukung sistem imunitas” yang diizinkan, dan itu pun harus sudah diverifikasi secara ilmiah. Peraturan ini bisa berubah; sebaiknya periksa informasi terbaru di situs resmi BPOM.

Cara Memulai Tanpa Harus Beli Produk Mahal

Salah satu hal yang membuat makanan fungsional lebih praktis dari suplemen: banyak yang sudah tersedia di pasar tradisional dengan harga terjangkau. Tempe, tahu, jahe, kunyit, ikan lokal berlemak seperti tongkol atau kembung, beras merah, kacang-kacangan, dan sayuran hijau semuanya masuk kategori ini.

Produk “fungsional modern” seperti yoghurt berprotein tinggi, susu dengan fortifikasi tertentu, atau minuman berenergi berbasis rempah memang lebih mudah ditemukan di supermarket. Tapi produk tersebut tidak selalu lebih efektif dari yang tradisional. Keunggulannya lebih pada kemudahan dan standardisasi dosis komponen fungsionalnya.

Yang lebih penting dari memilih produk mahal adalah konsistensi. Manfaat makanan fungsional tidak datang dari satu kali konsumsi, ia bekerja secara kumulatif dalam pola makan jangka panjang. Semangkuk yoghurt rutin setiap hari memberi dampak berbeda dibanding semangkuk yoghurt sekali sebulan, meski kandungannya sama persis.

Makanan fungsional bukan tren baru, jauh sebelum istilahnya ada, nenek moyang kita sudah mengolah dan mengonsumsinya. Yang berubah hanyalah cara ilmu pengetahuan memahami mengapa makanan-makanan itu bekerja, dan seberapa spesifik manfaatnya bagi kesehatan.

Scroll to Top